Jombang — suaraharianjatim.com : Puluhan warga Dusun Sukodadi, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, melakukan aksi protes spontan pada Jumat malam, 6 Juni 2025.
Mereka berkumpul di area pembuangan limbah cair yang berada di perbatasan Desa Jati Duwur, untuk menyuarakan keresahan atas aktivitas pembuangan limbah yang diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).
Aksi yang diikuti warga dari berbagai kalangan usia ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap keberadaan limbah yang dinilai mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Bau menyengat yang ditimbulkan limbah tersebut menjadi keluhan utama warga sekitar.
“Truk pengangkut limbah datang hampir setiap hari, biasanya pagi dan malam. Saya dengar itu berasal dari Perak, Jombang dan juga dari Sooko, Mojokerto,” ujar seorang warga yang ikut dalam aksi.
Seorang warga lainnya mengaku sempat mengikuti salah satu truk pengangkut dan mendapati sumber limbah berasal dari sebuah pabrik pengolahan sosis milik pengusaha besar di Jombang.
“Bau dari limbahnya sangat busuk dan menyengat. Saya ikuti truk itu, ternyata menuju ke pabrik sosis,” katanya, enggan menyebutkan nama.
Lokasi pembuangan limbah diketahui berada di lahan milik mantan Kepala Desa Jati Duwur, Aji Mubarok, sekitar 500 meter dari permukiman. Bau tak sedap dari lokasi tersebut disebut telah mengganggu kenyamanan warga hingga menimbulkan masalah kesehatan.
Saat aksi berlangsung, sebuah truk pengangkut limbah tampak masih berada di lokasi. Truk tersebut terjebak lumpur setelah membongkar muatan dan belum bisa keluar dari area pembuangan.
Menariknya, tidak ada aparat keamanan yang terlihat di lokasi unjuk rasa malam itu. Hanya pemilik lahan yang terlihat mengamati dari kejauhan.
Kapolsek Kesamben, Iptu Niswan, mengaku belum menerima laporan terkait aksi tersebut. “Mungkin itu aksi spontan warga. Kami belum menerima laporan resmi. Terima kasih atas informasinya, akan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon.
Menurut Habib Sholeh, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an di Dusun Sapon, keluhan warga sudah berkali-kali disampaikan, namun tidak pernah ditanggapi pihak terkait.
“Santri kami terganggu, warga juga banyak yang mengeluh. Bahkan ada ibu hamil yang sampai muntah-muntah dan tidak bisa makan karena bau itu,” katanya prihatin.
Habib menambahkan, aktivitas pembuangan limbah ini telah berlangsung lebih dari satu tahun. Karena berbagai upaya mediasi tak membuahkan hasil, warga akhirnya memutuskan untuk turun langsung ke lokasi sebagai bentuk kekecewaan dan kekesalan mereka. *sw
