KONI Mojokerto Evaluasi Penampilan di Porprov IX dan Siapkan Langkah Baru Menuju Porprov X

Kabupaten Mojokerto suaraharianjatim.com : Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mojokerto menggelar rapat evaluasi sekaligus membubarkan kepanitiaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025. Acara ini berlangsung di Aula KONI, Jalan Jayanegara No. 04, Gatoel, Banjaragung, Puri, Sabtu (26/7/2025).


Dalam kesempatan tersebut, Ketua KONI Kabupaten Mojokerto, Imam Suyono, menyampaikan bahwa pelaksanaan Porprov IX menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus baru KONI. Dengan masa transisi dan waktu persiapan yang hanya empat bulan, ia menilai hasil yang diraih kontingen Mojokerto belum maksimal.
“Perolehan medali belum sesuai harapan, namun ini jadi pelajaran penting. Kami akan berbenah dan menyiapkan diri lebih matang untuk Porprov X di Surabaya,” kata Imam.


Ia menegaskan bahwa sebagai lembaga yang melayani para atlet, KONI berkomitmen penuh untuk meningkatkan prestasi olahraga Mojokerto ke depan. Salah satu upayanya adalah dengan memperjuangkan peningkatan anggaran untuk mendukung pembinaan atlet, pelatih, dan cabang olahraga.


“Prestasi itu berjalan seiring dengan dukungan anggaran. Kalau ingin hasil lebih baik, kita harus memberikan dukungan maksimal,” tegasnya.


Imam juga mengungkapkan bahwa untuk Porprov X mendatang, KONI menargetkan mengirimkan sekitar 700 atlet dan ofisial, dengan estimasi anggaran lebih dari Rp6 miliar. Anggaran tersebut akan difokuskan pada peningkatan kesejahteraan atlet dan dukungan teknis untuk cabang olahraga.


Terkait bonus untuk peraih medali di Porprov IX Malang, Imam menyebutkan bahwa KONI telah mengajukan usulan kepada Bupati sebesar Rp3,8 miliar. “Informasinya dari Dispora, bonus itu kemungkinan bisa dicairkan akhir tahun ini. Besarannya disesuaikan dengan kategori perorangan, beregu, dan tim,” jelasnya.

Bacaan Lainnya


Dalam forum evaluasi tersebut, Imam juga menanggapi isu mundurnya tiga pengurus KONI Kabupaten Mojokerto. Ia menepis anggapan bahwa hal itu terjadi akibat persoalan internal.


“Itu hal biasa dalam organisasi. Bisa jadi karena alasan kesibukan pribadi. Kami menghargai keputusan mereka, dan saya pastikan tidak ada masalah internal yang berarti,” ujarnya menutup. *sw

Pos terkait