Jombang – suaraharianjatim.com : PT Berkah Berlimpah, perusahaan pengolahan limbah bulu ayam menjadi tepung bahan dasar pakan ternak yang berlokasi di Desa Banjarsari, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, dipastikan akan kembali beroperasi pada September mendatang setelah sempat berhenti sementara.
Pemilik PT Berkah Berlimpah, Viery Drielaksmana, mengatakan penghentian sementara aktivitas pabrik dilakukan sebagai bentuk respons terhadap protes sebagian pihak yang menyoal soal pembagian kompensasi.
“Untuk sementara waktu memang belum ada aktivitas lagi di pabrik. Namun pada bulan September nanti kita akan beroperasi lagi,” kata Viery saat ditemui wartawan, Jumat (29/8/2025).
Viery menegaskan keputusan menghentikan sementara produksi dimaksudkan untuk menjaga kondusifitas di lingkungan sekitar.
“Kami menghargai sebagian orang yang protes, dan kami tidak ingin ada ketegangan di lingkungan. Ini wujud kepedulian kami terhadap masyarakat,” ujarnya.
Penanggung jawab PT Berkah Berlimpah, Nurul Huda, menjelaskan pabrik dibangun di area persawahan, sekitar 500 meter dari permukiman warga. Lokasi tersebut, menurutnya, sudah melalui persetujuan warga, pemerintah desa, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
“Pabrik ini berdiri jauh dari rumah penduduk. Waktu pembangunan, semua pihak sudah setuju. Jarak dari pemukiman sekitar 500 meter, dan tidak ada bau seperti yang diprotes sebagian orang itu,” kata Nurul Huda.
Ia menambahkan, bahan baku yang digunakan juga bukan bulu ayam basah, melainkan bulu yang sudah kering. Hal ini untuk memastikan tidak ada bau menyengat yang sampai ke rumah warga.
“Kami hanya menerima bulu ayam kering. Jadi tuduhan bau busuk itu tidak benar, karena bulu langsung kami proses menjadi tepung,” tegasnya.
Selama dua tahun beroperasi, pabrik tersebut dinilai memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, salah satunya menyerap tenaga kerja lokal. Selain itu, perusahaan juga rutin menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako.
“Kami sering memberikan kontribusi kepada warga berupa beras, minyak goreng, mie instan, dan kebutuhan pokok lain. Jumlahnya 250 hingga 300 paket yang dibagikan beberapa bulan sekali,” terang Nurul Huda.
Ia juga menyebut, sejauh ini tidak pernah ada aksi demo besar dari warga terkait keberadaan pabrik.
“Kalau pun ada yang protes, hanya segelintir orang yang mungkin iri karena tidak mendapat kontribusi, sehingga mencoba memprovokasi warga lain,” tambahnya.
Rencana beroperasinya kembali pabrik itu disambut positif oleh warga sekitar. Seorang warga Desa Banjarsari yang enggan disebutkan namanya mengaku tidak pernah mencium bau dari aktifitas pabrik.
“Kami berharap pabrik tersebut segera beroperasi lagi, karena bisa menyerap tenaga kerja dan membantu warga sekitar mendapatkan pekerjaan. Kami sangat mendukung,” ujarnya.
Dengan rencana beroperasi kembali pada September mendatang, keberadaan pabrik pengolahan bulu ayam di Banjarsari diharapkan bisa terus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekaligus menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar. *ds
