Jombang – suaraharianjatim.com : dr. Raden Taufan Mulyo Wibisono, Sp.OT bicara tentang sarcopenia yang tidak banyak dimengerti banyak orang. dr. Raden Taufan menjelaskan bahwa Sarcopenia itu berasal dari dua kata, sarco dan penia. Kalau sarco itu artinya otot, penia itu berkurang. Jadi maknanya adalah otot yang berkurang, berkurang bisa karena massanya dan kekuatannya.
dr. Raden Taufan melanjutkan, Sarkopenia itu sebenarnya seperti fenomena gunung es. Secara statistik, kalau di Indonesia yang sudah ada penelitiannya itu sekitar 9 sampai 10%. Tapi kalau penelitian global di negara maju itu bahkan ada yang sampai 30-40% dari populasi lansia, terutama yang berumur diatas 60 tahun.
Kenapa kok bisa seperti fenomena gunung es? karena tadi yang sudah disebutkan Mbak Ratna, menganggap kalau orang tua itu gampang capek, mudah jatuh, jalannya melambat, itu dianggap, sudah tua. Jadi enggak bisa diapapa-apakan. Dan juga populasi yang diteliti atau yang kita evaluasi itu juga sangat masih sedikit sekali. Karena kesadaran akan sarkopenia ini untuk memeriksakan diri, untuk dicek secara rutin, itu masih sangat minimal sekali, masih sangat sedikit sekali.
dr. Raden Taufan juga bicara soal sebab dari sarcopenia. Untuk penyebabnya ada beberapa hal. Yang alami itu adalah karena penuaan. Kenapa penuaan itu bisa menyebabkan sarkopenia? Ini berkaitan terutama dengan hormon. Kalau pada pria itu karena ada penurunan testosteron, kalau pada wanita itu karena penurunan estrogen. Jadi dua hormon ini memang sangat berkontribusi besar terhadap otot di tubuh kita.
Kemudian, juga bisa karena penyakit kronis seperti diabetes. Jadi diabetes ini dengan sarkopenia itu hubungannya sangat erat.
Karena sarkopenia ini bisa menyebabkan diabetes, diabetes bisa menyebabkan sarkopenia. Jadi dua hal ini seperti lingkaran setan. Tinggal duluan yang mana yang kena. Kalau duluan kena sarkopenia, tinggal menunggu nanti akan terjadi diabetes. Kalau diabetes duluan yang kena, bisa dipastikan kena sarkopenia.
Kenapa seperti itu? Karena otot di tubuh kita fungsinya banyak sekali. Salah satunya adalah untuk meregulasi gula darah dan menjaga insulin itu tetap sensitif terhadap tubuh kita.
Jadi kalau otot kita tidak ada, tidak bisa meregulasi gula di dalam tubuh kita, akhirnya gula itu numpuk terus, tidak bisa masuk ke dalam otot. Karena kalau gula tinggi, akhirnya terjadi resistensi insulin, jadilah diabetes.
Tapi kalau otot kita besar, cadangan kita banyak, kalori yang masuk, glukosa yang di dalam darah itu bisa dengan mudah disimpan di dalam otot dalam bentuk glikogen.
Nah, kalau ototnya enggak ada, ya enggak ada tempat menyimpan, tidak ada yang mengelola, akhirnya gula di tubuh kita tinggi terus, berakhir diabetes.
Sekarang juga ada istilah mager, itu juga jadi faktor risiko yang sangat besar. Mager ini bukan hanya pada orang tua kalau sekarang. Pada yang anak-anak, remaja, itu banyak yang mager (malas gerak). Karena pola hidup yang sedentari, maksudnya yang sehari-hari cuman makan, tidur, nge-game, tidak pernah latihan fisik, hanya rutinitas sehari-hari yang tanpa ada menggunakan otot yang dilatih seperti itu.
Itu juga sangat berisiko, karena prinsip dasarnya itu use it or lose it. Jadi, pakai atau dibuang. “Jadi tubuh menganggap kalau cuman untuk jalan, makan, pakai baju dan lain-lain aktivitas sehari-hari, ya enggak perlu otot banyak-banyaklah, buang aja. Tubuh mikirnya seperti itu.”
Lain halnya kalau kita rutin berolahraga, terutama olahraga ketahanan, seperti nge-gym, lari yang sampai agak lelah, terus sepeda yang agak intens, itu tubuh berpikir, “Oh, orang ini butuh otot banyak,” sehingga kita harus memproduksi otot, nah, seperti itu. Tapi kalau enggak, cuman baring-baring, scrolling-scrolling tiap hari, ya lama-lama tubuh mikir, “Oh, enggak penting otot ini, buang aja.” Nah, baru seperti itu.
Juga bisa pada orang dengan tirah baring lama karena sakit, misalnya dirawat di rumah sakit sampai berhari-hari, berminggu-minggu, tidak pernah dilatih, tidak pernah difisioterapi untuk tetap aktif, itu massa ototnya akan cepat sekali habis, sehingga mudah terjadi sarkopenia, seperti itu.
Juga bisa karena penyakit infeksi lama, seperti TBC. Makanya kalau kita lihat orang TBC cenderung kurus-kurus, salah satunya karena ototnya habis, dipakai untuk mengalahkan kumannya.
Bagaimana dok kita bisa tahu seseorang itu sudah terkena sarkopenia, atau ciri-ciri dalam kehidupan sehari-hari yang paling sering kita jumpai ?
Sebenarnya enggak terlalu sulit, kalau untuk melihat gejala awalnya, terutama pada orang tua kita. Biasanya yang paling mudah terlihat itu jalannya mulai melambat. Misalnya kita ajak jalan-jalan kok jalannya lambat sekali, Terus kalau tiap kali bangun tidur atau dari kursi mau berjalan, kok kayaknya susah sekali, sampai harus berpegangan atau minta dibantu ditarik, seperti itu. Atau bisa juga baru jalan sedikit kok sudah capek, baru ke warung, apa ke mushola kok kayaknya sudah lelah sekali, seperti itu.
Sering pegang benda tiba-tiba terjatuh, seperti itu. Atau bisa juga gampang jatuh, jalan di rumah tidak kesandung enggak apa tahu-tahu jatuh. Enggak pusing enggak apa kok tahu-tahu jatuh. Jadi itu yang bisa kita tangkap gejala awalnya kalau seseorang itu mulai terkena sarkopenia.
Tes sederhana untuk mengetahui gejala sarcopenia adalah tes duduk dan berdiri dari kursi. Tes duduk berdiri lima kali tanpa bantuan tangan. Normalnya kita bisa melakukan itu kurang dari 15 detik. Jadi setiap kali gerakan itu hanya butuh 3 detik. kalau baru mau bangun sekali saja udah habis 15 detik itu kita jelas ada gejala sarkopenia.
Kemudian bisa juga dengan tes jalan sekitar 4 sampai 6 meter. Normalnya kalau seperti kita ini kecepatannya ya 1 meter per detik. Jadi, kurang lebih kalau kita jalan 6 meter itu ya hanya butuh sekitar 6 detik. Nah, kalau lebih dari itu, misalnya 1 meter aja habis 5 detik ya sudah jelas ada gejala sarcopenia.
Yang kedua tes menggunakan alat, tes genggaman, namanya dynamometer. Kemudian nanti yang lebih advanced itu menggunakan alat namanya BIA, nanti itu dia bisa mengukur massa otot, persentase massa otot, persentase lemak tubuh.
Apabila pasien itu sudah terkena sarkopenia, apa yang bisa terjadi Dok, apabila sarkopenia ini tidak ditangani dengan baik? Dan yang paling terburuk apakah bisa terjadi sampai kematian ya, Dokter?
Ya tentu, Karena ini berhubungan dengan kekuatan seseorang, ya. Kita beraktivitas sehari-hari itu kan butuh kekuatan, yang bahkan untuk hal yang sekecil membalik telapak tangan saja kan butuh kekuatan, apalagi sampai harus jalan, berdiri, melakukan kegiatan yang lebih kompleks. Dengan hilangnya massa otot, otomatis kekuatan kita juga akan menurun drastis.
Kemudian juga hilangnya fungsi untuk kemandirian. Ini yang menurut saya sangat penting dan sering tidak dianggap serius.
jadi mungkin efeknya sarkopenia, secara enggak langsung, juga bisa berpengaruh ke kognitif, kognitif tuh jadi kemampuan kita untuk berpikir, untuk mengingat. Contohnya gini, kalau ya kayak satu paket, ya, kalau orang sudah lemah, terus tirah baring aja, itu pasti mudah pikun. Mudah pikun, Terus untuk kognitfnya, misalnya sekadar untuk mengenali cucunya saja kadang lupa. Itu juga berhubungan ke sana. Karena otot itu tadi saya bilang fungsinya banyak sekali, dia untuk meregulasi gula, terus untuk pompa darah dan segala macam.
