Ning Ita Ajak Warga Jadi Garda Terdepan Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak

Mojokertosuaraharianjatim.com : Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan penguatan peran masyarakat di Kantor Kelurahan Mentikan, Senin (20/4).

Dalam kesempatan itu, wali kota yang akrab disapa Ning Ita menegaskan bahwa upaya perlindungan perempuan dan anak tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah maupun aparat penegak hukum. Peran masyarakat di tingkat lingkungan, seperti Ketua RT, RW, tokoh masyarakat, hingga Satlinmas, dinilai sangat penting dalam mendeteksi dini potensi kekerasan.

Ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan. Menurutnya, dengan memahami jenis-jenis kekerasan, masyarakat akan lebih peka dan mampu mengambil langkah pencegahan di lingkungan masing-masing.

“Kekerasan tidak hanya berupa fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk verbal maupun tekanan psikologis yang berdampak besar bagi korban,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ning Ita mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap pasif ketika menemukan indikasi kekerasan, terutama yang terjadi dalam lingkup rumah tangga. Tokoh lingkungan diharapkan berani mengambil peran, baik dengan memberikan dukungan moral kepada korban maupun mendorong mereka untuk melapor.

Ia juga menegaskan bahwa kepedulian dan keberanian masyarakat menjadi kunci dalam memutus rantai kekerasan. “Jangan diam ketika mengetahui ada kekerasan. Jika korban belum berani melapor, kita bisa membantu mendampingi dan memberikan kekuatan,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kota Mojokerto telah menyediakan layanan pendampingan melalui UPT PPA Kota Mojokerto di bawah Dinas Sosial. Layanan ini dapat diakses selama 24 jam, termasuk melalui pesan singkat, guna memudahkan masyarakat dalam melaporkan kasus.

Selain itu, pemerintah juga menghadirkan tenaga psikolog untuk membantu pemulihan korban, khususnya yang mengalami trauma akibat kekerasan. Langkah ini diharapkan mampu memberikan perlindungan sekaligus pendampingan secara menyeluruh.

Di akhir kegiatan, Ning Ita kembali menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak merupakan tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, ia optimistis upaya pencegahan kekerasan dapat dilakukan lebih efektif, dimulai dari lingkungan terkecil. *ds

Pos terkait